Peduli Lingkungan Lewat Fashion.
Web ini hadir sebagai media alternative untuk membantu penyebaran bahwa fashion semata-mata tidak hanya untuk bergaya saja tapi fashion juga mampu dipilih sebagai ikon untuk gerakan cinta lingkungan serta bermanfaat bagi lingkungan.
Semalem gw iseng baca-baca artikel tentang fashion ramah lingkungan, cieeleh padahal gw sama skali ga ngerti masalah fashion, haha.. belagu bgt yak.
nah ada salah 1 artikel yang buat gw tertarik, yaitu tentang ribuan karyawan PT Coca Cola gunakan kaos daur ulang, *langsung bayangin baju dari kaleng, kya robocob dunx* haha..
Tapi ini jadi makin menguatkan pemikiran gw, klo isu dunia tentang lingkungan atau lebih dikenal dengan sebutan
global warming ga hanya bisa dicegah dengan teknologi atau sampah-sampah aja, tp fashion juga amat berperan penting.
Kya PT Coca Cola ini, ga hanya omong doang klo mereka cinta lingkungan tapi ternyata PT ini bener-bener praktek langsung, ckckc... mantap. talk less do more, TOP BGT deh.
Jadi konsepnya seperti ini, Kaos daur ulang
tersebut berasal dari 60 persen bahan katun dan sisanya
berupa plastik dari sampah bekas minuman Coca-cola ukuran 1 liter dan
1,5 liter. Bukan hanya kaos, hasil daur ulang juga
menghasilkan topi, tas. Sementara itu, untuk barang bekas
seperti kaleng dijadikan untuk hiasan vas
bunga. Sayang, inovasi ini ga dijual bebas hanya untuk karyawan Coca Cola aja... jadi klo pengen ini kaos, daftar aja jadi karyawan coca-cola, terus kluar lagi deh lanjut jadi mahasiswa gadungan kya gw ini, haha.. plak!
Yah ga ada contoh gambarnya ne guys, bayangin ajalah ya atau tunggu gw jadi desainer muda terus gw desainin tuh baju begituan buat seluruh rakyat indonesia, haha.. ngayal cui.
Eh bro and sis sekalian, minta doanya dunx buat temen gw, dy pengen banget jadi desainer muda, ya semoga cita-citanya itu bisa kesampaian ya, biar gw bisa di desainin baju gratis, haha.. *ngarep* uda ah makin ngelantur aja ne tulisan, okay see you good bye. salam mahasiswa!
Fashion itu merugikan
lingkungan? Wooo… kata sapa? Enggak juga.
Centroholic tahukan kalau
pakaian yang kita pakai sehari-hari bisa jadi barang yang sangat tidak ramah
lingkungan? Hal ini disebabkan karena kapas yang digunakan sebagai bahan baku
tekstil dihasilkan dari pertanian yang tidak ramah lingkungan. Kapas sebagai
bahan baku tekstil merupakan jenis tanaman yang tidak ramah lingkungan karena
harus secara rutin disemprotkan pestisida dan bahan kimia lainnya, yang dapat
menyebabkan timbulnya ketidakseimbangan ekosistem karena banyak tumbuhan atau
binatang lain yang mati karena dosis pestisida yang tinggi. Selain kapas yang
merupakan bahan baku dari katun, jenis tekstil lain yang tidak ramah lingkungan
adalah Nylon, dalam proses produksinya bahan Nylon menggunakan bahan kimia
Nitro Oksida yang efeknya 310 kali lipat lebih kuat dari karbondioksida dalam
menghasilkan efek rumah kaca. Wow! Gila, ngeri juga.
Klo begitu mendingan enggak usah
pakai baju dunx atau kembali ke jaman purba? Oh no !! haha… lebai kali kau nak! Enggak gitu juga
kali.
Investasikan Energimu Untuk Bumi nah salah satu cara tersimple
adalah dengan Peduli Lingkungan lewat fashion, ehm.. keren juga ya. Fashion ramah
Lingkungan dalam industri fashion sekarang ini sudah menjadi alternatif yang
mulai dilirik oleh para designer dan grup retail fashion besar. Bentuk industri
fashion yang ramah lingkungan dengan menggunakan bahan baku organik, rendah
dalam penggunaan bahan kimia baik dalam proses produksi maupun dalam proses
pewarnaan, design dibuat long last sehingga bisa disimpan dalam jangka waktu
lama, diproduksi oleh usaha yang menerapkan fair trade yaitu pekerja diupah
sesuai dengan upah standar dan dalam kondisi kerja yang layak, dan menggunakan
bahan pakaian daur ulang bahkan serat kain yang dibuat dari proses daur ulang
botol plastik.
Aduh masalahnya klo memakai
bahan serba daur ulang begitu, enggak keren dunk, enggak modis, terus gimana gw
bisa keliatan cantik, gw bisa kliatan ganteng dan tetep ok?! Ckckc... Tenang fashion ramah lingkungan itu
sebenarnya tetap fashionable, ini terbukti dari banyak designer dan perusahaan
retail yang udah mulai menerapkan hal ini.
Ini menandakan bahwa industri fashion juga peduli dengan keberlangsungan
lingkungan hidup
Well kita flashback pada
pertengahan 1998 bahwa para ahli tekstil Abigail Garner dan Thomas Petit
menemukan bahwa kain atau tekstil bisa diproduksi dengan sistem yang lebih
ramah lingkungan, yaitu menggunakan kapas organik, pewarna yang alami, dan juga
dibuat oleh pekerja yang diupah secara adil. Yup, we can still be fashionable while saving
the earth.
Kita mungkin telah sering
mendengar tentang makanan organik, yaitu makanan yang ditanam secara alami,
tanpa penggunaan bahan kimia apapun termasuk pestisida, diolah dan disajikan
dengan cara yang sehat dan ramah lingkungan. Namun sebagian besar dari kita
mungkin belum pernah mendengar atau tahu tentang Organic Fashion, right?
Meskipun mungkin di Asia dan terutamanya Indonesia, belum terlalu terdengar
ataupun dikenal, Organic Fashion telah menjadi sesuatu yang sangat besar dan
merupakan statement terdepan dari komunitas Fashion di negara - negara maju. Fashion
dan Pencemaran Lingkungan seperti Tsunami, badai, banjir, dan lainnya hanya
merupakan sebagian akibat dari perubahan alam yang tentunya berhubungan erat
dengan kontribusi peradaban manusia. Salah satu di antaranya adalah pencemaran
lingkungan yang terjadi di seluruh dunia termasuk indonesia, pencemaran yang
terjadi dari bahan-bahan kimia yang kita gunakan saat memproduksi kebutuhan
sehari-hari dan industri kita, yang salah satunya adalah industri fashion.
Tidak dapat dibantah bahwa fungsi dan dampak dari fashion dalam kehidupan
masyarakat kini sangatlah besar. Baik secara langsung maupun tidak langsung.
Banyak pakaian yang kita kenakan sekarang, terbuat dari bahan sintetis seperti
nylon dan polyester. Nylon dan polyester terbuat dari petrokimia yang
menyebabkan polusi tingkat tinggi pada lingkungan,serta menyebabkan global
warming (meningkatnya panas bumi dan suhu dunia yang menyebabkan mencairnya es
di kutub dan menyebabkan ketidakseimbangan alam serta pergeseran benua pada
akhirnya).
Keduanya juga merupakan produk
yang sulit untuk didaur ulang. Untuk memproduksi nylon, nitro oksida
"diproduksi" sebagai bagian dariprosesnya. Nitro Oksida merupakan
salah satu gas yang berbahaya dalam efek rumah kaca (greenhouse) yang
kekuatannya 310 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dan menyebabkan
global warming. Kain katun berwarna
putih mungkin terlihat paling natural dan paling ramah lingkungan, namun pada
kenyataannya, justru lebih tidak ramah lingkungan dibandingkan dengan kain
sintetis kebanyakan. Kapas merupakan salah satu tumbuhan di dunia yang paling
tidak ramah lingkungan. Karena bukan ditujukan untuk makanan pangan, maka kapas
secara rutin disemprot dengan campuran pestisida dan bahan kimia lainnya yang
jauh lebih berat dan berbahaya daripada yang digunakan untuk tumbuhan pangan.
Di negara-negara berkembang, bahkan 50% dari pestisida digunakan untuk
menyemprot perkebunan kapas. Hasilnya tentu selain mencemarkan lingkungan,
menyebabkan penyakit bagi para pekerja perkebunan, dan memutus rantai makanan
secara alami bagi kehidupan hewani.
Bahan-bahan kimia yang digunakan selama proses pembuatan bahan-bahan dan
pakaian ini, akan terus ada dan akan terusmemberikan dampak pada penggunanya.
Karenanya semakin sering kita dengar ada anak-anak dengan kesehatan yang kurang
baik, harusmenghindari penggunaan produk-produk berbahan dasar kapas, ataupun alergi
terhadap kapur barus, dan lainnya.
Dengan banyaknya dampak buruk yang ada, maka sudah sewajarnya bagi industri
yang berdampak besar bagi kehidupan manusia itu mulai memikirkan dan mengambil
langkah untuk lebih menghijaukan industrinya. Baik secara bersama-sama, maupun
secara perorangan, sudah menjadikewajiban kita semua untuk memelihara alam
dengan lebih baik demi kenyamanan hidup bersama, dan kita bisa memulainya dari
fashion, bidangyang kita cintai bersama. Semangat "menghijaukan" itu
yang sedang dikumandangkan oleh seluruh komunitas fashion dunia.
Selain ramah lingkungan, organic fashion hijau ini juga mengusung trade fair berupa
upah layak bagi pekerja, nilai jual bahan baku yang layak, serta nilai produksi
dan nilai jual yang wajar. Berbekal harapan untuk kehidupan bersama yang lebih
baik, lingkungan yang lebih nyaman, duniatanpa kemiskinan, serta trade fair
bagi semua negara termasuk negara-negara ketiga, sebagian dari komunitas
fashion dunia mulai berusahamengubah dunia dengan cara yang mereka ketahui,
yaitu melalui Organic Fashion dan Eco Fashion. Organic Fashion berarti pakaian
yang telah di produksi dengan penggunaan bahan kimia seminimal mungkin dengan
dampak kerusakan pada lingkungan yang juga sangat minimal. Ini termasuk
minimalisasi bahan kimia yang digunakan pada setiap langkah pemrosesan, mulai
dari proses penanaman dan pemeliharaan bahan baku (kapas, bambu, rami,
dll), pengupasan,pemintalan, sampai hingga ke finishing menjadi produk
jadi berupa pakaian, tas, dan lainnya. Organic Fashion ditujukan kepada pakaian
dan produk fashion yang telah di produksi menggunakan produk-produk ramah
lingkungan dalam prosesnya, termasuk produk dan pakaian organic. Organic Fashion dapat menggunakan bahan-bahan pakaian lama
yang di recycle atau bahkan menggunakan material recycle lainnya yang
diproduksi dari botol plastik, kaleng soda, dan lainnya. Eco Fashion tidak
selalu harus dibuat menggunakan serat organic. Bagaimanapun fashion yang paling
ramah lingkungan adalah produk-produk recycle dan pakaian vintage. Karena
dengan menggunakan kembali, kita menggali fungsi dan menambahkan nilai secara
keseluruhan. Sekarang ini di negara-negara maju, terutamanya Amerika, sudah
banyak t-shirt architect ataupun green designer yang menggunakan produk-produk
daur ulang dan bahan-bahan second hand untuk menghasilkan karya-karya mereka.
Baik karya haute couture maupun ready to wear. Banyak label fashion dunia yang
telah menggunakan kain-kain vintage untuk musim ini, mengubah tekstil-tekstil
lama menjadi funky dan orisinil. Hasilnya adalah penampilan yang anda inginkan
tanpa menyengsarakan planet ini, style yang baik tanpa kerusakan alam. Lebih
jauh lagi, kini bahkan telah ada banyak show dan trade fair untuk produk-produk
Organic dan Eco Fashion, seperti Global ECO Wholesale Trade and Fashion
Showyang diadakan Febuari lalu di Las Vegas. Beberapa designer dan branddunia
seperti Giorgio Armani dan Adidas juga telah menggunakan bahanorganic seperti
rami dan bambu untuk produk-produk terbaik mereka.
Angelina Jolie, Natalie Portman, dan designer Stella Mc. Cartney, merupakan
beberapa Hollywood A-list celebrities yang juga secara konstan menggunakan
produk-produk Eco Fashion dan produk ramah lingkungan lainnya. Di India,
beberapa designer seperti Deepika Govind, Ritu Kumar, Rahul Mishra, dan Samant
Chouhan juga secara konstan telah mendukung penggunaan produk-produk Organic
dan menjadikan Eco Fashion sebagai pilihan mereka. Seperti biasanya, sebuah
perubahan tidak pernah mudah untuk dilakukan. Begitu juga perubahan dalam dunia
fashion ini. Masih kurang beragamnya jenis organic fashion yang dapat dipilih,
membuat sebagian komunitas fashion masih belum yakin untuk beralih ke industri
yang lebih hijau ini.Sebagian lagi juga mengkhawatirkan perbedaan cost yang
cukup signifikan dalam proses produksi setiap jenis produk akan mengurangi
profit yang didapatkan. Di sisi lain, permintaan dari konsumen belumlah tinggi,
dikarenakan sebagian besar konsumen masih kurang aware dengan
konsep"hijau" ini dan produk yang ditawarkan memang belum seberagam
produklainnya. Namun dapat kita yakini bahwa, sebagai manusia yangberadab dan
bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup lingkungandan isinya, secara
perlahan namun pasti, organic fashion dan eco fashion akan menjadi pilihan yang
tepat. Di Indonesia sendiri, kita telah mengenal banyak jenis penggunaan
bahan-bahan alami untuk produk fashion seperti kulit kerang, tulang, bamboo untuk
kancing, aksesoris dan lainnya. Kemudian penggunaan daun pisang, rotan, bambu
untuk produk tas dan sepatu, namun secara keseluruhan, belum ada sistem dan
konsep yang jelas tentang bagaimana membuat dan mengolah keseluruhan proses
merupakan proses yang "hijau", keterangan tentang apakah bahan -
bahan alami tersebut telah diolah menjadi serat - serat untuk bahan tekstil dan
lainnya, dan apakah keseluruhan proses tersebut mengusung sistem fair trade.
Pada akhirnya, mungkin seperti yang dikatakan oleh Katharine Hamnett, salah
seorang desainer penerima penghargaan British Designer Of The Year, "The
fashion industry tends to attract people with serious personality defects. They
just want tobe rich and famous. But at some point you have to decide: Are you
going tomindlessly go the easy way or are you going to go the ethical
way?"
Organic fashion… apaan ya? Masa
fashion dari organic? Ckck… jangan salah sangka dulu, Organic fashion
berarti pakaian yang di produksi dengan meminimalkan penggunaan bahan kimia dan
meminimalkan pula dampak kerusakan pada lingkungan. Ini termasuk minimalisasi
bahan kimia yang digunakan pada setiap langkah pemrosesan, mulai dari proses
penanaman dan pemeliharaan bahan baku, pengupasan, pemintalan, sampai hingga ke
finishing menjadi produk jadi berupa pakaian, tas, dan lainnya.
Organic Fashion ini ditujukan untuk pakaian dan produk fashion yang telah di produksi menggunakan
produk – produk ramah lingkungan. Dapat menggunakan
bahan-bahan pakaian lama yang di recycle atau bahkan menggunakan
material recycle lainnya yang diproduksi dari botol plastik, kaleng
soda, dan lainnya. Eco-fashion tidak selalu harus dibuat menggunakan serat
organik. Sebelumnya hanya segelintir desainer saja yang tertarik untuk membuat
busana yang ramah lingkungan, baik dari segi bahan yang digunakan hingga proses
pengerjaannya. Namun kini desainer kelas dunia beramai-ramai menciptakan busana
berkonsep ramah lingkungan tersebut, antara lain Stella McCartnye, Versace,
dan Diesel.
Banyak label fashion dunia yang
telah menggunakan kain-kain vintage, mengubah tekstil-tekstil lama menjadi funky
dan orisinil. Hasilnya adalah penampilan yang kita inginkan tanpa
menyengsarakan planet ini, style yang baik tanpa kerusakan alam. why not guys?!
Beberapa designer dan brand
dunia seperti Giorgio Armani dan Adidas juga
telah menggunakan bahan organik seperti rami dan bamboo untuk produk-produk
terbaik mereka. Ini bukan sekadar trend, tetapi sudah kebutuhan yang mutlak Karena menggunakan bahan yang
ramah lingkungan, soal kualitas juga dijamin oleh para desainer. Pasalnya,
pakaian tersebut memiliki pori sehingga bisa “bernapas” dan anti alergi. Gila keren banget ga tuh? Selain
itu, karena berasal dari bahan-bahan alami, pembuatan kainnya tidak akan
memakai bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara), seperti halnya pada
pembuatan kain nylon atau polyester.
Bahkan dari kalangan selebriti
Hollywood, beberapa nama layak jadi panutan. Ada Angelina Jolie, Natalie
Portman, Sienna Miller, dan Alicia Silverstone. Mereka termasuk yang konsisten
mengenakan produk-produk ramah lingkungan.
Ingin mengikuti jejak para
pesohor itu dengan memakai produk fashion ramah lingkungan? Tentunya..
Perubahan lebih baik dimulai dari diri sendiri. Mungkin kita akan menjadi orang
pertama, tetapi saat orang lain mengikuti jejak kita, kita pasti akan merasa
puas. Satu langkah maju telah kita tempuh. Yakinlah, pelan tapi pasti, fashion ramah lingkunag akan menjadi pilihan yang tepat, kita senang bumi pun bahagia.
“The fashion industry
tends to attract people with serious personality defects. They just want to be
rich and famous. But at some point you have to decide: Are you going to
mindlessly go the easy way or are you going to go the ethical way?”