Slogan

Kompetisi Web Kompas MuDA & Pertamina

30 January, 2012

Investasikan Energimu Untuk Bumi


Investo!
Investasikan energimu untuk Bumi

Fashion can harm the environment?
Fashion itu merugikan lingkungan? Wooo… kata sapa? Enggak juga.
Centroholic tahukan kalau pakaian yang kita pakai sehari-hari bisa jadi barang yang sangat tidak ramah lingkungan? Hal ini disebabkan karena kapas yang digunakan sebagai bahan baku tekstil dihasilkan dari pertanian yang tidak ramah lingkungan. Kapas sebagai bahan baku tekstil merupakan jenis tanaman yang tidak ramah lingkungan karena harus secara rutin disemprotkan pestisida dan bahan kimia lainnya, yang dapat menyebabkan timbulnya ketidakseimbangan ekosistem karena banyak tumbuhan atau binatang lain yang mati karena dosis pestisida yang tinggi. Selain kapas yang merupakan bahan baku dari katun, jenis tekstil lain yang tidak ramah lingkungan adalah Nylon, dalam proses produksinya bahan Nylon menggunakan bahan kimia Nitro Oksida yang efeknya 310 kali lipat lebih kuat dari karbondioksida dalam menghasilkan efek rumah kaca. Wow! Gila, ngeri juga.
Klo begitu mendingan enggak usah pakai baju dunx atau kembali ke jaman purba? Oh no !!  haha… lebai kali kau nak! Enggak gitu juga kali.
Investasikan Energimu Untuk Bumi nah salah satu cara tersimple adalah dengan Peduli Lingkungan lewat fashion, ehm.. keren juga ya. Fashion ramah Lingkungan dalam industri fashion sekarang ini sudah menjadi alternatif yang mulai dilirik oleh para designer dan grup retail fashion besar. Bentuk industri fashion yang ramah lingkungan dengan menggunakan bahan baku organik, rendah dalam penggunaan bahan kimia baik dalam proses produksi maupun dalam proses pewarnaan, design dibuat long last sehingga bisa disimpan dalam jangka waktu lama, diproduksi oleh usaha yang menerapkan fair trade yaitu pekerja diupah sesuai dengan upah standar dan dalam kondisi kerja yang layak, dan menggunakan bahan pakaian daur ulang bahkan serat kain yang dibuat dari proses daur ulang botol plastik.
Aduh masalahnya klo memakai bahan serba daur ulang begitu, enggak keren dunk, enggak modis, terus gimana gw bisa keliatan cantik, gw bisa kliatan ganteng dan tetep ok?! Ckckc...  Tenang fashion ramah lingkungan itu sebenarnya tetap fashionable, ini terbukti dari banyak designer dan perusahaan retail yang udah mulai menerapkan hal ini.  Ini menandakan bahwa industri fashion juga peduli dengan keberlangsungan lingkungan hidup
Well kita flashback pada pertengahan 1998 bahwa para ahli tekstil Abigail Garner dan Thomas Petit menemukan bahwa kain atau tekstil bisa diproduksi dengan sistem yang lebih ramah lingkungan, yaitu menggunakan kapas organik, pewarna yang alami, dan juga dibuat oleh pekerja yang diupah secara adil.  Yup, we can still be fashionable while saving the earth.
Kita mungkin telah sering mendengar tentang makanan organik, yaitu makanan yang ditanam secara alami, tanpa penggunaan bahan kimia apapun termasuk pestisida, diolah dan disajikan dengan cara yang sehat dan ramah lingkungan. Namun sebagian besar dari kita mungkin belum pernah mendengar atau tahu tentang Organic Fashion, right? Meskipun mungkin di Asia dan terutamanya Indonesia, belum terlalu terdengar ataupun dikenal, Organic Fashion telah menjadi sesuatu yang sangat besar dan merupakan statement terdepan dari komunitas Fashion di negara - negara maju. Fashion dan Pencemaran Lingkungan seperti Tsunami, badai, banjir, dan lainnya hanya merupakan sebagian akibat dari perubahan alam yang tentunya berhubungan erat dengan kontribusi peradaban manusia. Salah satu di antaranya adalah pencemaran lingkungan yang terjadi di seluruh dunia termasuk indonesia, pencemaran yang terjadi dari bahan-bahan kimia yang kita gunakan saat memproduksi kebutuhan sehari-hari dan industri kita, yang salah satunya adalah industri fashion. Tidak dapat dibantah bahwa fungsi dan dampak dari fashion dalam kehidupan masyarakat kini sangatlah besar. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Banyak pakaian yang kita kenakan sekarang, terbuat dari bahan sintetis seperti nylon dan polyester. Nylon dan polyester terbuat dari petrokimia yang menyebabkan polusi tingkat tinggi pada lingkungan,serta menyebabkan global warming (meningkatnya panas bumi dan suhu dunia yang menyebabkan mencairnya es di kutub dan menyebabkan ketidakseimbangan alam serta pergeseran benua pada akhirnya).
Keduanya juga merupakan produk yang sulit untuk didaur ulang. Untuk memproduksi nylon, nitro oksida "diproduksi" sebagai bagian dariprosesnya. Nitro Oksida merupakan salah satu gas yang berbahaya dalam efek rumah kaca (greenhouse) yang kekuatannya 310 kali lebih kuat daripada karbon dioksida  dan menyebabkan global warming.  Kain katun berwarna putih mungkin terlihat paling natural dan paling ramah lingkungan, namun pada kenyataannya, justru lebih tidak ramah lingkungan dibandingkan dengan kain sintetis kebanyakan. Kapas merupakan salah satu tumbuhan di dunia yang paling tidak ramah lingkungan. Karena bukan ditujukan untuk makanan pangan, maka kapas secara rutin disemprot dengan campuran pestisida dan bahan kimia lainnya yang jauh lebih berat dan berbahaya daripada yang digunakan untuk tumbuhan pangan. Di negara-negara berkembang, bahkan 50% dari pestisida digunakan untuk menyemprot perkebunan kapas. Hasilnya tentu selain mencemarkan lingkungan, menyebabkan penyakit bagi para pekerja perkebunan, dan memutus rantai makanan secara alami bagi kehidupan hewani.

Bahan-bahan kimia yang digunakan selama proses pembuatan bahan-bahan dan pakaian ini, akan terus ada dan akan terusmemberikan dampak pada penggunanya. Karenanya semakin sering kita dengar ada anak-anak dengan kesehatan yang kurang baik, harusmenghindari penggunaan produk-produk berbahan dasar kapas, ataupun alergi terhadap kapur barus, dan lainnya.
Dengan banyaknya dampak buruk yang ada, maka sudah sewajarnya bagi industri yang berdampak besar bagi kehidupan manusia itu mulai memikirkan dan mengambil langkah untuk lebih menghijaukan industrinya. Baik secara bersama-sama, maupun secara perorangan, sudah menjadikewajiban kita semua untuk memelihara alam dengan lebih baik demi kenyamanan hidup bersama, dan kita bisa memulainya dari fashion, bidangyang kita cintai bersama. Semangat "menghijaukan" itu yang sedang dikumandangkan oleh seluruh komunitas fashion dunia.

Selain ramah lingkungan, organic fashion hijau ini juga mengusung trade fair berupa upah layak bagi pekerja, nilai jual bahan baku yang layak, serta nilai produksi dan nilai jual yang wajar. Berbekal harapan untuk kehidupan bersama yang lebih baik, lingkungan yang lebih nyaman, duniatanpa kemiskinan, serta trade fair bagi semua negara termasuk negara-negara ketiga, sebagian dari komunitas fashion dunia mulai berusahamengubah dunia dengan cara yang mereka ketahui, yaitu melalui Organic Fashion dan Eco Fashion. Organic Fashion berarti pakaian yang telah di produksi dengan penggunaan bahan kimia seminimal mungkin dengan dampak kerusakan pada lingkungan yang juga sangat minimal. Ini termasuk minimalisasi bahan kimia yang digunakan pada setiap langkah pemrosesan, mulai dari proses penanaman dan pemeliharaan bahan baku (kapas, bambu, rami, dll),  pengupasan,pemintalan, sampai hingga ke finishing menjadi produk jadi berupa pakaian, tas, dan lainnya. Organic Fashion ditujukan kepada pakaian dan produk fashion yang telah di produksi menggunakan produk-produk ramah lingkungan dalam prosesnya, termasuk produk dan pakaian organic. Organic  Fashion dapat menggunakan bahan-bahan pakaian lama yang di recycle atau bahkan menggunakan material recycle lainnya yang diproduksi dari botol plastik, kaleng soda, dan lainnya. Eco Fashion tidak selalu harus dibuat menggunakan serat organic. Bagaimanapun fashion yang paling ramah lingkungan adalah produk-produk recycle dan pakaian vintage. Karena dengan menggunakan kembali, kita menggali fungsi dan menambahkan nilai secara keseluruhan. Sekarang ini di negara-negara maju, terutamanya Amerika, sudah banyak t-shirt architect ataupun green designer yang menggunakan produk-produk daur ulang dan bahan-bahan second hand untuk menghasilkan karya-karya mereka. Baik karya haute couture maupun ready to wear. Banyak label fashion dunia yang telah menggunakan kain-kain vintage untuk musim ini, mengubah tekstil-tekstil lama menjadi funky dan orisinil. Hasilnya adalah penampilan yang anda inginkan tanpa menyengsarakan planet ini, style yang baik tanpa kerusakan alam. Lebih jauh lagi, kini bahkan telah ada banyak show dan trade fair untuk produk-produk Organic dan Eco Fashion, seperti Global ECO Wholesale Trade and Fashion Showyang diadakan Febuari lalu di Las Vegas. Beberapa designer dan branddunia seperti Giorgio Armani dan Adidas juga telah menggunakan bahanorganic seperti rami dan bambu untuk produk-produk terbaik mereka.
Angelina Jolie, Natalie Portman, dan designer Stella Mc. Cartney, merupakan beberapa Hollywood A-list celebrities yang juga secara konstan menggunakan produk-produk Eco Fashion dan produk ramah lingkungan lainnya. Di India, beberapa designer seperti Deepika Govind, Ritu Kumar, Rahul Mishra, dan Samant Chouhan juga secara konstan telah mendukung penggunaan produk-produk Organic dan menjadikan Eco Fashion sebagai pilihan mereka. Seperti biasanya, sebuah perubahan tidak pernah mudah untuk dilakukan. Begitu juga perubahan dalam dunia fashion ini. Masih kurang beragamnya jenis organic fashion yang dapat dipilih, membuat sebagian komunitas fashion masih belum yakin untuk beralih ke industri yang lebih hijau ini.Sebagian lagi juga mengkhawatirkan perbedaan cost yang cukup signifikan dalam proses produksi setiap jenis produk akan mengurangi profit yang didapatkan. Di sisi lain, permintaan dari konsumen belumlah tinggi, dikarenakan sebagian besar konsumen masih kurang aware dengan konsep"hijau" ini dan produk yang ditawarkan memang belum seberagam produklainnya. Namun dapat kita yakini bahwa, sebagai manusia yangberadab dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup lingkungandan isinya, secara perlahan namun pasti, organic fashion dan eco fashion akan menjadi pilihan yang tepat. Di Indonesia sendiri, kita telah mengenal banyak jenis penggunaan bahan-bahan alami untuk produk fashion seperti kulit kerang, tulang, bamboo untuk kancing, aksesoris dan lainnya. Kemudian penggunaan daun pisang, rotan, bambu untuk produk tas dan sepatu, namun secara keseluruhan, belum ada sistem dan konsep yang jelas tentang bagaimana membuat dan mengolah keseluruhan proses merupakan proses yang "hijau", keterangan tentang apakah bahan - bahan alami tersebut telah diolah menjadi serat - serat untuk bahan tekstil dan lainnya, dan apakah keseluruhan proses tersebut mengusung sistem fair trade.
Pada akhirnya, mungkin seperti yang dikatakan oleh Katharine Hamnett, salah seorang desainer penerima penghargaan British Designer Of The Year, "The fashion industry tends to attract people with serious personality defects. They just want tobe rich and famous. But at some point you have to decide: Are you going tomindlessly go the easy way or are you going to go the ethical way?"
Organic fashion… apaan ya? Masa fashion dari organic? Ckck… jangan salah sangka dulu, Organic fashion berarti pakaian yang di produksi dengan meminimalkan penggunaan bahan kimia dan meminimalkan pula dampak kerusakan pada lingkungan. Ini termasuk minimalisasi bahan kimia yang digunakan pada setiap langkah pemrosesan, mulai dari proses penanaman dan pemeliharaan bahan baku, pengupasan, pemintalan, sampai hingga ke finishing menjadi produk jadi berupa pakaian, tas, dan lainnya.
Organic Fashion ini ditujukan untuk pakaian dan produk fashion yang telah di produksi menggunakan produk – produk ramah lingkungan. Dapat menggunakan bahan-bahan pakaian lama yang di recycle atau bahkan menggunakan material recycle lainnya yang diproduksi dari botol plastik, kaleng soda, dan lainnya. Eco-fashion tidak selalu harus dibuat menggunakan serat organik. Sebelumnya hanya segelintir desainer saja yang tertarik untuk membuat busana yang ramah lingkungan, baik dari segi bahan yang digunakan hingga proses pengerjaannya. Namun kini desainer kelas dunia beramai-ramai menciptakan busana berkonsep ramah lingkungan tersebut, antara lain Stella McCartnye, Versace, dan Diesel.
Banyak label fashion dunia yang telah menggunakan kain-kain vintage, mengubah tekstil-tekstil lama menjadi funky dan orisinil. Hasilnya adalah penampilan yang kita inginkan tanpa menyengsarakan planet ini, style yang baik tanpa kerusakan alam. why not guys?!
Beberapa designer dan brand dunia seperti Giorgio Armani dan Adidas juga telah menggunakan bahan organik seperti rami dan bamboo untuk produk-produk terbaik mereka. Ini bukan sekadar trend, tetapi sudah kebutuhan yang mutlak Karena menggunakan bahan yang ramah lingkungan, soal kualitas juga dijamin oleh para desainer. Pasalnya, pakaian tersebut memiliki pori sehingga bisa “bernapas” dan anti alergi. Gila keren banget ga tuh? Selain itu, karena berasal dari bahan-bahan alami, pembuatan kainnya tidak akan memakai bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara), seperti halnya pada pembuatan kain nylon atau polyester.
Bahkan dari kalangan selebriti Hollywood, beberapa nama layak jadi panutan. Ada Angelina Jolie, Natalie Portman, Sienna Miller, dan Alicia Silverstone. Mereka termasuk yang konsisten mengenakan produk-produk ramah lingkungan.
Ingin mengikuti jejak para pesohor itu dengan memakai produk fashion ramah lingkungan? Tentunya.. Perubahan lebih baik dimulai dari diri sendiri. Mungkin kita akan menjadi orang pertama, tetapi saat orang lain mengikuti jejak kita, kita pasti akan merasa puas. Satu langkah maju telah kita tempuh. Yakinlah, pelan tapi pasti, fashion ramah lingkunag akan menjadi pilihan yang tepat, kita senang bumi pun bahagia.
“The fashion industry tends to attract people with serious personality defects. They just want to be rich and famous. But at some point you have to decide: Are you going to mindlessly go the easy way or are you going to go the ethical way?”

Tulisan ini diikut sertakan dalam Kompetisi Web Kompas MuDA & Pertamina.

1 comment:

  1. tapi at least ada benernya juga.. karena pada hakikatnya produk-produk tekstil itu juga hasil kerjaannya anak Teknik Kimia.. mungkin temen-temen yang nanti bakal kerja di pabrik tekstil harus lebih aware ama pengolahan limbahnya kali ya.. hehe.. biar gak semakin merusak lingkungan.. soalnya gua gak kebayang kalo kita ngegunain bener2 bahan natural (kerang, rotan, dll) untuk dibuat sebagai pakaian.. hehehe.. penduduk dunia kan ada 6 milyar.. bisa2 ntar tumbuhan dan hewan abis deh buat dibikin baju.. ntar ujung-ujungnya kita berantem juga deh kita ama WWF dan Greenpeace.. hehehe..

    ReplyDelete